Rabu, 05 Mei 2010

Seperti suara burung

Dulu waktu Dini umur 1.8 bulan , aku pikir dia terkena penyakit autis.. karna pada waktu itu dia belum juga pintar bicara. Sementara teman2 sebayanya sudah pada berbicara dan tumbuh gigi.

Sering aku memperhatikan apa yang dilakukan dan dibuatnya, di tambah lagi dia selalu aktif dalam melakukan segala sesuatu terkadang suka tidak perduli jika aku memanggilnya.
Tadinya aku bangga dan senang Dini bisa berdiri dan berjalan saat umur 8 bulan, tapi setelah aku pikir mending bisa berbicara dulu dari pada berjalan.

Ya karna waktu itu aku sedikit parno, kebetulan tetangga rumah salah satu anaknya mengidap penyakit ini. Dan pernah juga membaca bagaimana ciri-ciri anak autis.

Aku selalu berdoa dan memohon semoga aja anakku selalu diberi kesehatan.

Sampai akhirnya Dini bisa berbicara dan memanggil papa...mama.

Waktu berlalu begitu cepat, dan tidak terasa waktu berjalan ..Dini sudah semakin besar, bisa memanggil Ayah, Ibu..Oma bahkan semua dan sekarang apa yang di lakukan ibu nya selalu saja dia ingin tahu. Keingin tahunya dia tentang sesuatu, sampai-sampai aku tidak sanggup melayaninya berbicara.
Seperti burung..selalu berkicau. Berhenti bicara kalau sedang tidur.

Aku selalu bilang sama suamiku.." yah tetangga kita mungkin pusing ya dengar suara ibu sama Dini , habis tiap hari perang.

Aku pasti akan merindukan hal2 seperti ini..

Jika dia berbicara aku harus memandang wajahnya kalau tidak dia akan bicara " ibu lihat dulu sini, lihat dulu" ( sampai kita memandang baru dia akan berhenti berbicara.
Jika melihat iklan atau sesuatu yang menurutnya cantik dan menarik dia akan selalu memaggil ku " ibu lihat itu...cantik, Dini suka itu bu..( kalau aku tidak lihat dia akan terus memanggil ku )
Jika dia ingin belajar gambar atau main boneka " dia akan selalu menunggu ibunya dengan setia sampai habis masak, kadang keluar dari mulut mungil yang cerewet itu..'ibu masih lama ya, ayo main belajar2. ( aku hanya bisa bilang sabar ya nak..ibu masak dulu, meskipun kata2nya pendek tapi sangat menyayat hati ).

Maklumlah di rumah tak ada pembantu.

Hampir semua yang dilakukannya selalu laporan dulu..baik itu mau minum, main, nonton, pipis dan lain2nya.
Yang paling parah kalau mau tidur...selalu ada aja bahan pembicaraan, kalau ibunya tertidur aja mata ini di culek, atau di ganggu supaya menemani dia main, sementara mata nich udah 5 watt.

Itulah anak2 ya..tidak tahu apakah ibunya sedang sibuk, atau capek mau istrirahat. menurutnya bermain adalah hal yang menyenagkan.

Seperti semalam, badan bener2 capek ..seharian duduk masukin data Invoice Finance, sampai pinggang ini rasanya mau patah..udah 3 hari gak selesai-selesai, sementara bosnya Finance asik tanyak terus udah siap belum..udah siap belum.

Imbasnya anakku di rumah, minta di temenin bermain sama mainan barunya, baru sebentar udah capek..ujung2nya matapun mengantuk. Sementara di Dini asik ayolah bu..ayolah bu..jangan tidur.
Akhirnya dengan malas dan mengatuk pun main juga..sampai akhirnya dia capek dan tertidur. Setelah dia tertidur pulas kupandangi wajahnya..duch kasihan ananku..maafkan ibu ya nak, besok kita main lagi ya..

Sebenarnya aku tidak ingin waktu seperti ini terlewati dengan cepatnya, karna aku pasti akan merindukan kicau mulutnya yg cerewet itu juga tingkahnya.

Dini ibu selalu sayang Dini..

9 komentar:

DewiFatma mengatakan...

Chaca juga dibilang autis, Mul.. :( Dia juga hiperaktif.
Sekarang lagi berobat, mudah-mudahan cepat sembuh. Tapi katanya autis itu bukan penyakit lo, Mul. Autis itu adalah gangguan perkembangan pada anak. Kemarin aku nonton acara talk show "Rossy" di GlobalTV tentang anak-anak autis. Ternyata mereka pinta-pintar.. :) Itulah adilnya Tuhan ya, Mul. Kalau ada kekurangan pasti ada kelebihannya juga. Thank's God. Apapun adanya anakku, aku cinta dia. Eh, kepanjangan nih, komennya. Sori ya...hehehe..

Anton mengatakan...

Salam kenal mbak, saya suka dengan kalimat di profil anda "Dengan ilmu hidup jadi mudah, dgn iman hidup jadi terarah, dgn seni hidup jadi indah ".

catatan kecilku mengatakan...

Sama spt aku mbak.., pulang dari kantor pun aku harus berjibaku dg pekerjaan rumah tangga sementara anakku menuntut perhatian. Untungnya aja sekarang anakku sudah besar, dan mulai mengerti kerepotanku. Dia pun mulai bisa mandiri.

the others mengatakan...

Hahaha, anak2 dimana2 sama. Selalu menuntut perhatian. Hanya sayang waktu kadang tak bersahabat bagi wanita2 yg bekerja ya..

senja mengatakan...

anak adalah permata hatinya bunda,...salam buat sikecil ya mba ^^

Adhini mengatakan...

Dewi fatma : bener kak Wi..tetangga rumah itu untung ibunya sabar banget sama anaknya, soalnya menjaga anak autis perlu kesabaran total. Semoga aja gak ya kak Wi..

Anton : Salam kenal juga

Mb Reni : Pekerjaan rumah kadang sudah menyita waktu mb, jadi buat si kecil sedikit kecuali libur..sebenarnya masa2 seperti ini yg butuh perhatian dan tidak ingin terlewati.

ajeng mengatakan...

Bukankah itu justru letak keindahan menjadi seorang ibu mbak yg tidak dimiliki oleh orang yg tidak mempunyai putra?
Terima kasih sudah mampir ke rumah bunga saya. Mohon maf baru mampir karena internet sedang lelet sekali. Salam kenal..

Yusnita Febri mengatakan...

lucu klo tiap kali apa2 laporan dulu..
masa anak2 memang cerewet yaa.. :)
jangan jenuh mba ngadepin ceriwisnya Dini.
soalnya ada orangtua anak tunarunggu malah ngarep rumahnya bisa lebih ramai dengan celotehan putrinya.

Adhini mengatakan...

Ajeng : Iya ajeng..makanya sayang kalau masa2 seperti ini terlewatkan. Belum tentu besar nanti dia masih bisa seperti ini.

Yusnita : Bukan lucu lagi...saudara2 sampai heran, semua harus ijin ibunya. Kalau di rumah omanya sama harus ijin Omanya.

Posting Komentar

Kunjungan sahabat sangat berarti buatku, terlebih lagi bila sahabat mau mengomentarinya....Terimakasih..